Memaafkan Gundala Di Kali Kedua, spoiler alert!

spoiler gundala film kedua

Sepertinya jika disebut review, tulisanku tentu sudah sangat terlambat. Jadi mungkin baiknya kita sebut ini sebagai pandanganku sebagai orang awam yang tidak sengaja menonton sampai dua kali film gundala ini.

Aku bukan penikmat komik zaman dulu, terlebih aku lahir jauh setelah masa kejayaan komik-komik pahlawan super berlalu di tanah air. Maka dari itu, awal aku tahu Joko Anwar akan menggarap film Gundala, minatku hanya sebatas kata ‘oh’ saja.

Tapi beberapa hari yang lalu, disela jadwal kerja yang padat, aku mendapatkan satu hari untuk liburan. Hari yang panjang dan cukup membosankan. Pada hari itu, berbekal kaos oblong dan celana selutut, aku pergi naik motor untuk membeli minuman favoritku di salah satu pusat perbelanjaan di dekat rumah. Tak ada selintas pikiran untuk mampir ke tempat pembelian tiket di bioskop saat itu. Namun entah karena terlanjur malas pulang, atau karena aku sedang bosan berat, aku memutuskan untuk membeli selembar tiket.

Judul filmnya, Gundala. Aku memilihnya bukan karena aku tertarik dengan beberapa video teaser yang sempat aku tonton beberapa hari sebelumnya. Tapi karena film tersebut jadwal tayangnya sangat dekat dibandingkan dengan yang lain, sepertiIT Chapter 2 atau Ready Or Not yang sebenarnya cukup menarik perhatianku.

Aku masuk ke dalam teater dengan santai. Sejenak aku pun merasa cukup takjub dengan banyaknya kursi yang terisi, mengingat film ini sudah tayang sejak Agustus kemarin.

Bagi yang belum tau sinopsis dan info details tentang gundala baca sini

Namun hal itu bukan apa-apa ketika seorang lelaki, yang mungkin umurnya sedikit lebih tua dariku duduk tepat di sebelahku.

Dia tersenyum ramah dan aku membalasnya dengan senyum kecil malu-malu. Karena sungguh, penampilanku berbeda jauh darinya yang terlihat begitu rapi dengan kemeja warna biru mudanya.

Tak disangka, setelah beberapa saat ia duduk, lelaki itu memalingkan wajahnya ke arahku dan bertanya, “sudah berapa kali nonton, mbak?”

Aku menjawab dengan pelan, “baru pertama kali mas. Coba-coba aja, siapa tahu seru.”

Pria itu kembali tersenyum dan membalas dengan sangat lugas. “Wah, kalau saya sih sudah ke empat kali sama yang ini.”

Wow, aku sempat berpikir, kurang kerjaan sekali orang ini. Kenapa bisa dia pulang pergi bolak-balik bioskop hanya untuk mengulang kisah yang sudah ia tahu akhirnya.

Saat itu aku kembali menyahut dengan nada main-main, “niat amat mas. Emangnya seseru itu ya filmnya. Sampai nonton empat kali.”

“Kalau seru sih, tergantung pada perspektif orang, mbak.” Suaranya sedikit samar karena trailer film-film yang akan tayang sudah mulai diputar menunggu penonton lain masuk semuanya. “Tapi buat saya, nonton film satu kali ngga akan cukup. Ibarat orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama, kita harus ada pandangan ke dua dan ke tiga untuk meyakinkannya. Coba deh abis ini mbak balik lagi nonton. Pasti experiencenya beda.”

Aku hanya tersenyum saja, sambil mengangguk mafhum dengan semua ucapannya. Ya, mungkin dia ada benarnya juga. Tapi aku bukan tipe orang yang suka menghamburkan uang sembarangan. Kalau bisa bayar tiket untuk film lain, kenapa harus nonton film yang sama, sampai empat kali lagi.

Film akhirnya di mulai, dari awal sampai ending, sebagai orang awam aku cukup terhibur. Apa lagi dengan theme musicnya yang terdengar begitu berkelas, menuntunku pada ledakan emosi gila-gilaan di paruh pertama film.

Sosok Sancaka kecil dan segala kepahitannya membuatku terhanyut sampai berpikir bahwa film ini memang layak untuk di tonton sampai empat kali.

READ  Sinopsis Dan Info Gundala dan Sosok di Baliknya

Hal inilah yang membawaku kembali duduk untuk kedua kalinya di kursi dan teater yang sama pada hari itu juga. Masa bodoh dengan waktu liburku yang semakin menipis atau uang yang aku buang percuma. Aku sudah terlanjur jatuh cinta pada kegamangan Sancaka yang begitu kocak, kepada Pak Agung dan Juga Teddy yang terlihat dingin namun cukup menunjukkan rasa pedulinya.

Tapi sayang, seperti kata mas-mas yang kutemui di bangku teater sebelumnya. Cinta pada pandangan pertama memang perlu pandangan kedua dan ketiga untuk meyakinkannya.

Aku merasakan sensasi lain ketika untuk kedua kalinya melihat pengembangan tokoh Sancaka kecil dan Sancaka dewasa. Muzakki Ramdhan begitu apik mempertontonkan transisinya sebagai seorang anak yang ditinggal kedua orang tua di usianya yang masih belia. Ia tumbuh menjadi sosok dingin dan sepintas terlihat keji di beberapa adegan setelah pertemuannya dengan Awang. Tapi sayang, perkembangan tokoh Sancaka dewasa tidak semulus Sancaka kecil. Ia yang telah menanamkan individualis tinggi sejak kecil tiba-tiba berubah menjadi pahlawan yang siap merugi untuk kepentingan banyak orang. Hal ini bisa jadi dikarenakan Sancaka dewasa tidak memiliki sebab yang kuat untuk mengubah pahamnya. Jika Sancaka kecil memiliki pengalaman buruk yang membuatnya malas berurusan dengan masalah orang lain, maka Sancaka dewasa berubah hanya karena sepenggal kalimat yang Pak Agung katakan kepadanya.

Selain itu, beberapa hal yang cukup membuatku terganggu adalah dengan munculnya begitu banyak tokoh ketika pengkor memanggil anak-anaknya.

Peran-peran yang diambil oleh Asmara Abigail dan kawan-kawannya memang sedikit membingungkan. Munculnya villain secara serentak dan terkesan terburu-buru membuatku cukup mengerutkan kening. Terlebih melihat mereka begitu mudahnya tumbang di tangan Sancaka. Namun di antara ‘Anak-Anak Bapak ’ tersebut, kehadiran Ari Tulang sebagai Kamal Atmaja yang begitu berkesan dengan “Sareeee!” miliknya, Aming yang muncul dengan rambut panjang dan kumis lebat sebagai Sam Buadi Sang Pemahat berhasil membuatku sedikit melupakan datangnya mereka yang terkesan begitu out of nowhere.

Di kali kedua itu, aku akhirnya merasakan hal-hal yang sempat aku lupakan karena terlalu terbuai oleh kilatan cinta pertamaku pada film tersebut.

Aku tidak bilang kalau Gundala tidak layak mendapat kesempatan untuk mendapatkan banyak perhatian. Gundala, sebagai fondasi untuk film Jagat Sinema Bumi Langit sudah cukup membuat aku terkesan. Plot hole yang tak jarang memenuhi bagian film, dapat aku maafkan, mengingat akan ada banyak film yang mengisi kekosongan plot-plot tersebut.

Semoga.

Sekian.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of